Pahlawan Nasional
KI HAJAR DEWANTARA
Pada tanggal 2 Mei ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari memperingati Hari Pendidikan Nasional.. Perkembangan pendidikan yang ada di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari perjuangan Ki Hajar Dewantara. Oleh karna dirinya merupakan sang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.
Ki Hajar Dewantara adalah seorang pahlawan nasional yang sekaligus menyandang gelar sebagai bapak pendidikan. Nama asli dari Ki Hajar adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Tapi tepatnya pada tahun 1922 Beliau lebih dikenal menjadi Ki Hadjar Dewantara. beberapa bahasa Jawa untuk menulis suara Ki Hajar Dewantoro, beliau dilahirkan di Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei tahun 1889 -- dan beliau wafat di Yogyakarta, pada tanggal 26 April 1959 pada usianya yang berumur 69 tahun, adalah aktivis gerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ki Hajar Dewantara merupakan pendiri dari Taman Siswa untuk penduduk pribumi mendapatkan sebuah pendidikan yang sama dengan orang-orang bangsawan. Perjalanan politik dan juga pendidikan dari Ki Hajar Dewantara mempertemukannya dengan gagasan pendidikan Friedrich Wilhelm August (1782-1852) tentang permainan sebagai media pembelajaran dan gagasan Maria Montessori (1870-1952) yaitu memberi kemerdekaan kepada anaka-anak.
Ki Hajar Dewantara yang merupakan pahlawan nasional yang berasal dari jawa, beliau lahir di lingkungan keluarga Kabupaten Pakualaman. Beliau ini merupakan anak dari GPH Soerjaningrat atau cucu dari Pakualam III. Ia berhasil menamatkan pendidikan dasar di ELS atau semacam sekolah dasar pada zaman Belanda. Kemudian Ki Hajar Dewantara akhirnya melanjutkan studinya ke STOVIA yang merupakan sekolah dokter khusus putra daerah akan tetapi beliau tidak berhasil menamatkannya karena sakit. Semboyan dalam sistem pendidikan yang sekarang sangatlah terkenal di dalam kalangan pendidikan di Indonesia. Secara keseluruhan, slogan membacanya dalam bahasa Jawa yang dinyanyikan Tulodo ngarso ing, ing Madyo Mangun Karso, tut wuri handayani. "Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, memberi dorongan balik". Slogan ini masih kerap digunakan dalam pendidikan masyarakat Indonesia, terutama di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.
Ki Hajar Dewantara mempunyai tiga semboyan yang sangat terkenal yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho yang berartikan di depan memberi contoh, Ing Madya Mangun Karso yang berarti di tengah memberikan semangat dan Tut Wuri Handayani yang berartikan di belakang memberikan dorongan. Beliau dikukuhkan sebagai pahlawan nasional untuk-2 oleh Presiden, Soekarno, pada tanggal 28 November 1959 (Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959). Perguruan Taman Siswa didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Perguruan ini kemudian berkembang luas baik di dalam maupun di luar Pulau Jawa, seperti Bali, Sulawesi, Sumatera, Ambon, dan juga Kalimantan. Yang menjadi tujuan dari Perguruan Taman Siswa itu adalah menuju Indonesia yang merdeka, demi terwujudnya masyarakat yang tertib dan juga damai. Menurut Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan Nasional Taman Siswa adalah antitesa terhadap sistem pendidikan bangsa kolonial yang bersifat regering, tucht, orde (perintah, hukuman, dan ketertiban). Pendidikan seperti ini yang mengekang dan menindas anaka-anak.
Nama Soewardi digantinya menjadi Ki Hajar Dewantara disaat usianya 40 tahun dan sejak saat itu, beliau tidak lagi menggunakan gelar bangsawannya, agar supaya bebas dalam bersosialisasi dengan masyarakat sendiri.
Kiprah Ki Hajar Dewantara pernah bekerja sebagai seorang wartawan di beberapa surat kabar, antara lain: Sedyotomo Midden Java De Express Oetoedan Hindia Kaoem Moeda Tjahaja Timoer Poesara Beliau menjadi salah satu penulis yang handal. tulisannya sangatlah komunikatif, tajam, dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antipenjajahan. Selain menjadi wartawan muda, Beliau juga aktif dalam organisasi sosial dan juga politik. Kehadiran Perguruan Taman Siswa memberikan kesempatan bagi semua orang untuk bisa bersekolah secara mudah dan murah. Mudah dikarenakan tidak ada persyaratan-persyaratan khusus, sedangkan murah dalam artian biayanya terjangkau oleh semua golongan. Tidak mengherankan apabila dalam kurun waktu delapan tahun (1922-1930) jumlah Perguruan Taman Siswa berhasil mencapai 100 cabang dengan jumlah puluhan ribu murid.
Ki Hajar Dewantara muda terkenal sangat aktif di organisasi sosial dan politik. Ketika Boedi Oetomo (BO) berdiri pada tahun 1908, Ki Hajar Dewantara masuk ke dalam organisasi ini dan dia sangat aktif di bagian propaganda untuk melakukan sosialisasi dan membangunkan kesadaran bagi rakyat Indonesia. Khususnya orang Jawa. Bagaimanpun caranya, rakyat Indonesia di waktu itu harus sadar mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan juga bernegara. Kongres pertama Boedi Oetomo diselenggarakan di Yogyakarta juga diatur oleh Ki Hajar Dewantara. Selain di dalam organisasi Boedi Oetomo, Ki Hajar Dewantara muda juga sangat aktif di organisasi Insulinde. Insulinde merupakan organisasi multietnis yang menampung kaum Indo. Tujuannya yaitu menginginkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Sebenarnya, idealisme ini dipengaruhi oleh Ernest Douwes Dekker.
Setelah itu pada tanggal 25 Desember 1912 beliau kemudian mendirikan Indische Partij bersama dengan Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo. Akan tetapi, Indische Partij ditolak oleh Belanda dan menggantinya dengan membentuk Komite Bumiputera pada tahun 1913. Komite tersebut memiliki suatu tujuan yaitu untuk melancarkan krituik terhadap pemerintah Belanda yang bermaksud untuk merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis dengan menarik pajak dari rakyat kecil. Ki Hajar Dewantara mengkritik tindakan perayaan tersebut melalui tulisan yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk satu juga). Akibat dari tulisan tersebut, Ki Hajar Dewantara pun ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda dan beliau dibuang ke Pulau Bangka. Namun, Ki Hajar Dewantara memilih untuk dibuang ke Belanda dan diizinkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Ki Hajar Dewantara kemudian diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama dan Pada tahun 1957 dia mendapat gelar sebagai Doktor kehormatan atau Doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada. Dikarenakan beliau sangatlah berjasa di dalam merintis pendidikan umum. Untuk mengenang semua jasa dan perjuangan dari Ki Hajar Dewantara, pemerintah pun memberikan julukan " Bapak Pendidikan" kepada Ki Hajar Dewantara dan menetapkan tanggal kelahirannya yaitu pada tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Posting Komentar untuk "Pahlawan Nasional"